Selasa, 30 Maret 2010

Pengetahuan Dasar Part 2 : Proses Primary

 Proses Primary
Proses primary adalah proses pengolahan material rokok (cigarette) yang masih berupa material setengah jadi (bales/krosok) sampai menjadi produk hasil blending yang siap untuk di linting (Tembakau untuk SKT dan SKM melalui proses yang sama). Proses primary ini menentukan 90% rasa / sensasi merokok sedangkan 10% nya disumbangkan dari proses linting dan system filter yang digunakan.Mengingat konstribusinya yang sangat besar maka tidak salah jika dikatakan bawha "jantungnya" tobacco factory berada di Primary Processes.

Berikut adalah tahapan pengolahan tembakau secara berurutan dalam proses primary :

Slicing
Dalam proses ini kubus tembakau kering hasil press dari supplier tembakau yang masih padat dipotong menggunakan mekanisme guillotine (macam alat penggal JADUL). Pemotongan ini bisa dilakukan searah ataupun tegak lurus lapisan daun tembakau. dari hasil pengamatan hasil produksi metode slicing tegak lurus menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik daripada metode horizontal. Proses Slicing harus dilakukan dengan kecepatan makan (feed rate) dan (width) besar potong yang konstan untuk menjaga hasil agar sesuai standar proses.


Conditioning
Dalam proses ini tembakau hasil slicing dikondisikan dengan mengatur temperatur tembakau dan kelembaban tembakau. Dalam proses ini potongan hasil slicing akan diurai lebih lanjut menggunakan mekanisme silinder berputar di dalam silinder tersebut biasanya terdapat garpu pengurai yang membantu proses penguraian. Pengaturan kelembaban dan temperature tembakau dilakukan dengan menyemprotkan steam secara langsung / tak langsung ke tembaaku yang masuk Conditioing Cylinder dan bersamaan dengan itu juga ditambahkan air untuk memberikan kelembaban pada tembakau agar tidak mudah hancur karena kering. Setiap jenis tembakau mempunyai karakter fisik yang berbeda sehingga perlakuan terhadap setiap jenis tembakau dalam proses conditioning juga harus berbeda. Jenis jenis tembakau seperti tembakau Virginia, Burley, Madura, Lombok, Oriental, Jawa, dan lain lain memiliki cara conditioning yang berbeda beda, kalau dilakukan dengan metode yang salah bisa bisa malah merusak tembakau.


Casing
Biasanya proses casing dilakukan bersamaan dengan proses conditioning dalam mesin DCCC direct conditioning and casing cylinder. Namun dapat juga dilakukan secara terpisah terutama jika casing yang digunakan berbahan dasar molase yang mempunyai kekentalan (viskositas) tinggi. Proses casing membutuhkan tangki casing dan Dosing system. Tangki Casing harus mempunyai system pemanasan dan pengadukan agar casing tetap homogen selama proses.  Dosing system secara otomatis akan melakukan pengukuran rasio casing yang harus di “dose” terhadap tembakau.

FM Classification (foreign material classificarion / deteksi benda asing dalam tembaku)
Meskipun didalam tembakau terdapat berbagai macam benda asing seperti debu, kayu, kertas, serat dan lain lain namun yang paling berbahaya dan diutamakan untuk di hilangkan adalah benda asing dengan material dari logam. Karena jika benda asing ini sampai lolos ke proses berikutnya dapat merusak alat atau mesin yang dilewatinya.  Berbagai metode yang dapat dilakukan adalah : Detektor logam, Pengayakan menggunakan Mesh stainless steel, penyortiran menggunakan optical system, dan Airlift system.

Cutting
Cutting adalah proses paling kritikal dari semua proses lamina atau stem, Kualitas hasil potong akan secara langsung mempengaruhi karakteristik produk akhir. Mekanisme proses cutting menggunakan drum pisau yang berputar dengan kecepatan tertentu yang memiliki korelasi dengan kecepatan feeding material cutting. Kualitas hasil potong dapat dipertahankan dengan melakukan perawatan dan penggantian spare part mesin cutting secara berkala. Kebersihan dan perawatan harian mesin juga tidak kalah penting dalam menunjang proses. Biasanya pabrik rokok memiliki lebih dari 1 mesin cutter untuk back up. 

Expansion & Drying
Setelah melalui proses cutting biasanya Moisture Content tembakau masih sangat tinggi bisa mencapai 25-30%, maka tembakau harus di keringkan. Proses pengeringan dilakukan di dalam mesin dreyer bersamaandengan proses ekspansi. Proses ekspansi bertujuan agar volume tembakau pada saat dikeringkan tidak menyusut bahkan bertambah hingga 0,3- 0,8 %. Proses ini penting untuk mendapatkan tembakau yang memiliki kadar air sesuai standar proses dan juga meningkatkan filling power tembakau.

Flavour
Ini adalah proses terakhir dari primary process, Larutan flavour berbahan dasar Alcohol ( Alcohol based ). Flavour di semprotkan pada tembakau di dalam mesin Flavour Cylinder. Proses penyemprotan hampir sama dengan DCCC hanya saja tidak control pada temperature dan Moisture content. Dengan menggunakan automatic flavour system proses penyemprotan dilakukan dengan hasil yang sangat homogen. Dosis dari Flavour VS Tobacco harus konstan dan merata agar stabilitas rasa produk rokok selalu terjaga. (KARENA RASA ADALAH SEGALANYA).

 
Storage
Ada bermacam macam metode storage yang digunakan oleh pabrik rokok. Ada yang menggunakan Blending Silo (untuk continue process) ada pula yang menggunakan Bag /karung  danTobacco Bin kotak penyimpanan tembakau. Proses storage ini sangat penting karena proses homogenisasi juga berlangsung selama masa tinggal tembakau di dalam storage. Proses homogenisasi ini terjadi karena sifat higroskopik tembakau sehingga tembakau yang kurang atau berlebihan mendapatkan dosing Flavour akan mencari keseimbangan (equilibrium) dengan cara memberikan atau mengambil Flavour dari tembakau yang saling kontak permukaan.

END

*NOTES : 
SETIAP PABRIK ROKOK (TOBACCO FACTORY) MEMILIKI PROSES PRIMARY DENGAN CARA BERBEDA ANTARA 1 DENGAN YANG LAIN. PABRIK ROKOK DI INDONESIA (TERUTAMA PABRIK ROKOK YANG BERDIRI SEBELUM TAHUN 1990) BIASANYA MEMILIKI "METODE WARISAN - CULTURE HERITAGE " YANG TELAH DIMODERENISASI MENYESUAIKAN MESIN YANG ADA. METODE DALAM PRIMARY PROSES SIFATNYA SANGAT FLEKSIBEL DAN TIDAK PARAMETER YANG  PASTI.

1 komentar: